Bali memang tak pernah menjemukan. Pulau yang hanya seluas 4% dari Pulau Jawa ini selalu punya kejutan di setiap sudut damai dan romantisnya. Menjangan, Pemuteran, Singaraja, Tulamben , Munduk, dan kini Nusa Lembongan. Ah, meski selalu kemari, Bali tidak pernah habis menyisakan cerita untuk dikenang. Kali ini izinkan saya berbagi secuil cerita dari secuil pulau di bagian selatan Pulau Dewata.

“Lima tiket atas nama Ika.”

“Tulis di sini ya”, jawab seorang perempuan di balik loket sambil terburu-buru memalingkan muka ke wisatawan asing di sampingku. Saya menuliskan nama sendiri dan empat orang teman di sejenis buku tamu untuk penyeberangan Sanur – Nusa Lembongan. Lalu saya menuliskan ‘local’ di kolom asal negara. Kulihat sekilas, sebagian besar penumpang kapal Sugriwa ini berasal dari luar Indonesia. Penyeberangan menuju Nusa Lembongan dari Pulau Bali memang ditempuh melalui Pantai Sanur, Denpasar. Biasanya dalam satu hari kapal hanya berangkat tiga kali.

Kurasakan kehadiran terik matahari, angin, kapal, dan laut, ah… sempurna! Atas saran teman, saya memilih untuk duduk di atas kapal tanpa atap. Biarpun sedikit norak, karena serasa naik motor ngebut tanpa pakai helm, but it’s feel so fun! Ada tiga wisatawan asing yang turut ber-yolo (you only live once) di atas kapal saat itu. Salah satu dari mereka baru berada satu hari di Pulau Bali, dan ia baru tahu kalau BALI IT’S NOT A COUNTRY. Sial, saya kira itu sudah bahasan basi, ternyata masih ada saja orang asing yang perlu diedukasi Geografi dan Pkn ini. Heran, ketika orang berencana traveling ke suatu tempat, setidaknya ia tahu dong hal mendasar mengenai destinasi yang akan dikunjungi, at least berada di negara mana.

Dua wisatawan asing lainnya hanya tersenyum, salah satunya telah tinggal selama empat tahun di Bali. Selain Pulau Bali, ia sudah menapaki beberapa tempat indah di Indonesia. Kami lantas membicarakan keindahan alam di Bali, mulai dari Gunung Agung, Gunung Batur, Liberty shipwreck hingga mengarah ke Lombok. Sial, saya belum pernah ke sana. Salah satu dari mereka penasaran dan bertanya banyak hal tentang Lombok. Saya tidak bisa berkata banyak. Sedangkan yang lain bisa menjawabnya dengan antusias. That’s it. Di saat orang asing mengerti lebih banyak tentang negeri saya sendiri, dan saya hanya plonga-plongo karena tidak tahu. Saya memilih memalingkan muka ke pengemudi kapal. Di balik kacamata hitamnya saya membayangkan ia tengah tersenyum ‘ngece’, menertawakan saya yang menyedihkan ini.

Setengah jam kemudian air laut mulai menampakkan warna biru yang berbeda. Terlihat batu-batuan tajam di sekeliling pulau yang membentuk tebing, memecah ombak. Suara mesin kapal terdengar semakin memelan. Kulihat ada beberapa wahana seperti permainan perosotan yang mengapung di tengah laut dekat pantai. Ada pula semacam shelter di tengah laut untuk tempat bersandar kapal pesiar.

“Adek tinggal lurus saja, nanti ada bendera biru belok kanan, itu sudah dekat”, kata salah seorang kru Sugriwa dengan logat Balinya, saat mengetahui kita akan menuju Big Fish Diving. Big Fish Diving adalah satu dari sekian banyak Dive Shop di Nusa Lembongan. Sambil berjalan tanpa sandal, saya berteriak dalam hati, “So, here I am Manta, let’s have a nice meeting!”

Yup, yang membuat saya dan teman-teman menyisihkan uang hidup bulanan untuk kemari selain karena kegiatan club, ya karena kami ingin sekali bertemu manta ray di laut lepas. Manta ray atau ikan pari yang biasanya kita lihat di terowongan Sea World berwarna putih lebar dengan wajah unyu. Kalau kata Mas Bobby, senior yang kini tengah menempuh kursus instruktur di sini, 70% kemungkinan kita bisa bertemu manta kalau menyelam di Manta Bay. “Ya… semoga kalian bukan termasuk yang 30%-nya ya… hahaha”, ujarnya sambil tertawa. Glek! Jujur, saya deg-degan saat ia berkata begitu. Of course, cause it’s not a zoo, baby. It’s ocean! Ibaratnya seperti ini, artis favorit kalian suka nongkrong di suatu mall. Tapi, belum tentu saat kalian ke mall itu, bisa berpapasan dengan si artis di tengah luasnya mall. Saya cuma bisa senyum-senyum ‘ketir’.

Saat itu cerah sekali. Gelombang lumayan tinggi, sampai kami kewalahan untuk naik ke kapal dan memasang alat scuba sambil digoyang.

“Kok tidak ada manta ya”, kata Wacary, dive master kita saat kapal sampai di Manta Bay.

“Yasudah, pasang alat kalian, kita lihat nanti di bawah”, lanjutnya dengan logat khas Sulawesi.

Gusti, rasanya saat memasang alat scuba, seakan waktu berjalan lebih lambat. Pikiran jadi campur aduk seketika. Udah siap ketemu manta? Kalau ketemu manta saya harus gimana ya? Kalau nggak ada manta di bawah gimana? Nanti saya cerita apa sama orang-orang di Jogja?

Byurr!

Perlahan pandangan saya didominasi oleh warna biru. Suara angin dan gelombang di permukaan perlahan menghilang digantikan oleh suara napas saya sendiri. Tenang. Tapi hati saya tidak tenang. Kami mulai berkeliling seolah berburu Manta. Clingak-clinguk. Toleh atas, bawah. Tidak ada manta. Hanya ada reruntuhan karang, pasir dan ikan-ikan kecil.

Sepertinya sudah setengah jam lebih kami berada di bawah. Mencari sesuatu yang tidak pasti. Di awal pencarian saya terus membatin,

Manta, muncullah. Manta kamu dimana? Manta, plis lewat sebentar dong. Ini serius kita nggak ketemu manta? Jauh-jauh kita ke sini terus buat apa? Pulang dari sini aku bawa cerita apa? Nothing? Really?

Begitu terus, berulang kali. Hingga akhirnya saya pasrah. Saya kembali teringat bahwa ini bukan kebun binatang yang sudah pasti ada hewan yang kita cari di tempat, terkurung dan tak bisa ke mana-mana. Yeah, so I am one of that 30%. Wakary sudah memberi kode untuk naik ke permukaan. It’s over. Bye-bye manta. Kulihat wajah teman-teman juga lesu, lebih menyedihkan daripada wajah orang patah hati.

Saat sudah di atas kapal, tiba-tiba salah satu awak kapal berteriak, “Itu ada manta!” sambil menunjuk ke arah kerumunan orang snorkeling. Kami melongo. Hidup ini memang terkadang perlu ditertawakan. Tanpa pikir panjang saya ambil masker dan snorkel lalu nyebur berenang ke arah kerumunan orang-orang itu. Saya terus berenang, masih terlihat warna biru kosong. Masih tidak ada apa-apa, hingga tiba-tiba sesuatu berwarna hitam dan putih semakin lama semakin mendekat ke arahku. Saya berhenti berenang, dan terdiam kaku. Makhluk itu terus mendekat. Rasanya ingin berbelok tapi tubuhku kaku dan hanya terdiam mengapung. Melihat makhluk itu lewat di bawah tubuh saya persis. Dekat sekali. Saya tidak berani bergerak karena takut finsku bisa melukai tubuhnya. Dia berputar kembali dengan indahnya, seperti burung yang terbang mengepakkan sayapnya yang lebar.

Tiba-tiba saya teringat saat menonton film ‘Racing Extinction’. Saat adegan Shawn Heinrich mendekati manta yang terkena kait untuk menolongnya. Ya, manta adalah hewan yang pintar. Dia tahu saat manusia berniat untuk membantunya. Saat itu dengan penuh drama saya menangis terharu, ingin sekali bertemu makhluk satu ini. Beruntung, saya masih diberi kesempatan untuk bertemu saat itu. Ah… saya memang orang berjiwa super drama. Maafkan.

Sebenarnya ingin lebih lama melihat kecantikannya, tapi kasihan, kulihat semakin banyak orang berkerumun untuk memotretnya. Orang yang sebagian besar warga negara asing. Selama lima kali diving di sini pun begitu. Tak pernah kami bertemu dengan wisatawan lokal. Padahal di empat dive spot lainnya, karangnya benar-benar cantik. Ditambah banyaknya schooling fish yang menari di tengah arus, benar-benar memukau. Andai Bapak, Ibu, semua keluarga dan teman-teman dekatku bisa ikut melihat dan merasakan keindahan bawah laut negaranya ini. Miris saja melihat pulau ini dikuasai oleh para wiraswasta asing dan dikunjungi oleh wisatawan asing pula. Bahkan Wakary saja sudah kesulitan berbahasa Indonesia karena terbiasa ngobrol dengan warga asing di sini. Are we literally get our independence already? (NR Novika)