“Nenek moyangku sorang pelaut

Gemar mengarung luas samudra

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa…”

Kurang lebih seperti itulah sepenggal syair lagu yang mengingatkan akan masa kecilku yang dihabiskan di perkotaan. Mungkin beranjak dari lagu yang diputar terus oleh abang odong-odong yang melintasi depan rumahku setiap sore dan ditambah suguhan cerita sejarah dari guru SD tentang bagaimana nenek moyang kita sewaktu muda digambarkan sebagai sekelompok pemuda gagah, pemberani, tak gentar oleh bahaya di laut, apalagi menghadapi teriknya sinar matahari yang dapat menghitamkan (red: menggelapkan) kulit mereka, mungkin sunblock mereka lebih “GGWP” dari produk pabrikan saat ini. Doktrin-doktrin tersebut membuatku sewaktu kecil bertanya-tanya,

“Apa iya kita punya laut? Seluas apa sih laut Indonesia itu? Apa iya lebih luas dari lapangan bola yang sering dipakai Kapten Tsubasa yang bahkan dalam 1 episode pun garis tengahnya belum terlihat?” *lebay*, tanyaku dengan polosnya yang hanya pernah melihat pantai Ancol dan paling banter masuk ke Sea World dengan kesan yang paling membanggakan saat itu adalah mendapatkan tato stempel tanda masuk di lengan layaknya Popaye Si Pelaut panutanku.

Keingintahuan tersebut terpendam begitu lamanya hingga tiba masa remajaku untuk membuktikan sendiri seperti apa sejatinya laut Indonesia itu. Agar aku bisa membuktikan kepada Cinta bahwa beda satu laut di New York dan di Jakarta. *krik*. Udah ga perlu dilanjutin lagi ya ceritanya sebelum kegaringan-kegaringan lainnya muncul. Intinya adalah entah dari mana datangnya motivasi – motivasi di diriku yang membuatku ingin sekali bisa ke laut Indonesia dan mengantarkanku hingga menjadi penyelam berlabel “hore” saat ini.

To be truth, latar belakang ku menulis artikel ini termotivasi dari travelling-ku bersama Unit Selam UGM menyelam di (masih) beberapa daerah di Indonesia, dan terakhir berkesempatan menyelam di Nusa Lembongan, Bali. Di sini kami membenarkan isu tentang pariwisata di Indonesia, khususnya pariwisata minat khusus bawah air memang masih dikuasai oleh sektor asing. Tidak hanya pemodal dan manajernya saja, bahkan operator, pemandu hingga wisatawannya pun juga didominasi dari warga negara asing. Suatu perpaduan yang komplit. Pertanyaan di pikiranku saat itu adalah, “Lalu dari mana keuntungan daerah ini dengan memanfaatkan potensi pariwisatanya? Apa peran masyarakat hanya sebatas menjual makan, minum, rokok, bir, sewa motor, gitu gitu aja gitu?”Oh okay, pemerintah masih bisa dapat pendapatan dari sektor pajak yang dibayarkan. Ya, kenyataan miris terungkap dari mata kepala sendiri.

Belum cukup sampai di sana, kami mendapatkan informasi dari tiga orang narasumber yang masih bekerja langsung di dalam lingkup kegiatan wisata selam di Nusa Lembongan bahwa dikatakan sebagian besar tenaga kerja asing di sana saat ini masih berada dalam status illegal atau tanpa izin. “Wow!”, begitulah respon pertama di benakku, mengingat semakin mamantapkan dugaanku akan begitu bocornya fungsi multiplier effect pariwisata di sana yang mengakibatkan perputaran uang yang bernilai besar hanya berputar di orang-orang asing saja.

Tulisan ini tidak mengarahkanku sebagai aktivis yang memaksakan mereka harus di deportasi. Justru sebaliknya, Aku menyadari bahwa mereka tetaplah memiliki peran penting terhadap keberlangsungan kegiatan pariwisata di sana, begitu juga keadaan di destinasi-destinasi sejenis di Indonesia. Seharusnya hal ini menjadi alarm tersendiri yang mengingatkan kita kembali akan keberkahan bangsa ini yang dikaruniai kekayaan begitu melimpah dan beragam hingga sampai sektor pariwisata bahari sekalipun, yang membuat warga negara asing melirik keberkahan ini.

Kembali kepada cerita awal, entah dari mana datangnya motivasi di diriku yang berbeda aku dapatkan dengan yang lainnya yang membuat pemuda-pemudi saat ini selalu menemukan alasan yang pas untuk tidak merasakan indahnya bawah laut Indonesia. Jawaban seperti,

“Ah nggak ah, scuba diving kan pasti mahal?”, yang selalu kujawab, “Nggak semahal hobi-hobi kekinian lainnya kok, tinggal tau cara ngaturnya aja”.

“Males ah harus bikin sertifikat dulu, ga ada waktu sob”, yang selalu kujawab, “Sekarang sertifikasi selam kurang dari 1 minggu kok bro”.

“Duh ga boleh pergi jauh lama-lama dari rumah”, hmm *No Comment*. Atau,

“Enak ya kamu jalan-jalan terus”, nah ini pertanyaan yang bikin bete. Entah ada berapa banyak pemuda WNA diumur 19-20an pada berani backpacker-an ke Indonesia yang kalau ditanya pengalaman mereka tentang travelling termasuk diving-nya di Indonesia membuatku sendiri merasa seperti tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan. Ga ada isinya cuy. Tak peduli mereka berasal dari negara maju dan kita dari negara berkembang, mata uang mereka bernilai lebih tinggi di sini sehingga bisa hidup tanpa kerja, atau masa liburan mereka lebih lama dari kita. Aku cuma mau bilang jangan menambah-nambah kekurangan kita untuk jadi alasan kenapa kita tidak menikmati alam kita sendiri. Seperti judul di tulisan ini, apa iya tantangan kita saat ini yang aku analogikan sebagai pasang laut atau badai itu lebih besar dari zaman nenek moyang kita yang tak menggetarkan hati mereka untuk turun ke laut, berani gila, berani mati untuk mencapai apa yang ingin mereka capai. Tantangan kita saat ini menurutku bukanlah lagi tentang badai di laut, tetapi kepada kenelangsaan sikap kita terhadap jeratan ketidakpercayaan diri yang dibangun secara perlahan dari pola pikir bahwa image berwisata selam di Indonesia adalah suatu usaha yang masih tergolong mahal dan berat.

Okay, kita kembali kepada bahasan terkait keterbatasan keterlibatan WNI terhadap sektor pariwisata bahari di Indonesia. Seperti yang udah aku utarakan sebelumnya bahwa sayang banget kalau tahu hingga saat ini di destinasi selam besar seperti Nusa Lembongan, Komodo, Raja Ampat dan di tempat-tempat lainnya itu dimiliki, dikelola, dimanfaatkan, dan dinikmati oleh orang-orang asing aja. Bagaimana kita bisa terlibat di dalam industri pariwisata di sana kalau minat kita terhadap dunia selam pun masih rendah? Minimal sebagai anak bangsa yang memiliki potensi bahari paling kaya sedunia ini harus tau bagaimana nikmatnya dan indahnya menyelami laut kita yang diprimadonakan oleh negara-negara lain. Andai minat ini bisa tersebar kepada wisatawan domestik secara meluas maka setidaknya pasti ada kontribusi yang tak kalah bermanfaat dari yang telah dihasilkan WNA, mulai dari skala kecil hingga skala besar yang bisa kita berikan kepada sesama saudara kita di kepulauan-kepulauan yang daerahnya dijadikan destinasi wisata bahari.

Semoga kesadaran ini tidak terlalu terlambat datangnya pada kita sebelum ekosistem bawah laut kita sudah tidak lagi seimbang akibat dari perlombaan kepunahan yang disebabkan illegal fishing, pembuangan limbah, dan aktivitas pariwisata yang tak bertanggung jawab yang masih terjadi saat ini dan entah sampai kapan akan berhenti. (Fakhran Gibral)