Bali, The Most Popular Dive Destination according to Dive Magazine. Pulau Dewata tidak melulu hanya mengenai kelestarian dan keunikan budayanya saja, tapi juga mengenai bentang alam serta keanekaragaman hayati bawah lautnya. Nusa Lembongan, salah satu destinasi penyelaman di sebelah tenggara Pulau Bali. Coba perhatikan peta Bali, Nusa Penida – Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan berbentuk seperti telor ayam.

Nusa Lembongan, sebagai lokasi surfing idaman menurut Lonely Planet. Nusa Ceningan, pulau kecil dengan keindahan alam. Nusa Penida dengan keanekaragaman bawah lautnya yang memukau. Tercoret sudah salah satu list destination before you die yang saya buat. Alhamdulillah masih sempet menikmati salah satu pulau yang terkenal dengan drift dive-nya. Kali ini yang dibahas bukan perjalanannya ke Bali, tapi apa yang saya rasakan ketika disana.

Meskipun terkenal, berapa banyakkah penduduk indonesia yang tahu tentang Pulau Nusa Lembongan dan jajarannya?

Pengunjung dari Indonesia lebih sedikit daripada wisatawan manca saat saya kesana. Apalagi wisatawan Indo yang menyelam, bisa dihitung pakai jari tangan doang. Dive shop yang Saya kunjungi juga isinya rata-rata foreigner. Pemiliknya adalah orang Inggris. Bahkan ada seorang DM Trainee yang berasal dari Manado tapi sulit untuk berbahasa Indonesia. Memang ada beberapa dive shop/center milik orang Indonesia. Tapi lebih sedikit dibandingkan punya orang lokal. Dive master aja kebanyakan import. Dalam dunia penyelaman, kita anggap saja dive master sebagai tour leader di bawah air karena memang DM-lah yang paham tentang kondisi perairan di suatu dive spot.

Sedih nggak sih kalo orang asing lebih kenal Indonesia daripada penduduknya sendiri? Ibaratnya tuh orang lain lebih kenal pacarmu daripada kamu. #nyesek

Fakta yang gak kalah menarik adalah beberapa foreigner tidak memiliki kitas. Hanya visa berlibur tapi mereka bekerja di Indonesia. Tidak bayar pajak, penghasilan berlimpah, serta bonus untuk menikmati kekayaan kita. Indonesia banyak pengangguran, sedangkan orang asing menikmati kekayaan Indonesia tanpa mengantongi ijin mencari nafkah di negara lain. Hmmmm… Entah ini idenya penduduk, entah pendatang, entah imigrasi atau mungkin idenya cozmos.

Beberapa kali bincang-bincang dengan foreigner yang ketemu waktu perjalanan, kita wawancara mereka pernah kemana aja. Yap, mereka pernah ke beberapa daerah di Indonesia melebihi kita-kita yang punya harta kekayaan (menurut UUD 45 pasal 33 ayat 3). Apalah daya saya ketika hanya bisa mendengar cerita orang asing tentang Indonesia bagian sana tuh ternyata begini, begitu. Sebagai mahasiswi pariwisata, I feel like nothing. Maka dari itu, bepergianlah wahai pemuda-pemudi. Gimana mau bangga sama tanah air kalau belum tau aset yang kita punya.

Percayalah, jalan-jalan ke Bali itu mudah dan murah. Setidaknya kita tahu tentang pulau yang dianggap orang asing sebagai surga. Pulau kita, milik kita, kita yang kelola, kita yang dapat manfaat.

Teruntuk orang pulau terutama, melanconglah. Karena untuk membangun suatu destinasi wisata yang dikelola oleh masyarakat, mereka juga harus pernah merasakan gimana rasanya menjadi pelancong. Dari situlah pengalaman dan pembelajaran yang paling baik untuk mengetahui sudut pandang seorang wisatawan ketika datang ke sebuah destinasi. Jangan hanya jadi jagoan kandang ^^. (Alifa Amila)