Kali ini angin petualangan membawa saya ke timur pulau Dewata, tepatnya di daerah Trinusa (Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, Nusa Penida). Saya tergabung dalam Tim Ekspedisi Nusantara Bawah Air Baruna Bali Dwipa, UNIT SELAM UGM dalam perjalan ini. Tim berangkat dari Yogyakarta menggunakan kereta api Sri Tanjung yang memang sudah menjadi moda transportasi massal mahasiswa atau massyarakat yang ingin menuju Banyuwangi atau Bali dengan harga ekonomis. Sekitar 14 jam kami berada di kereta, selama perjalanan itu juga yang saya fikirkan hanya satu, yaitu sebuah brosur perjalanan di Nusa Penida yang saya dapatkan dari pameran outdoor dulu. Sebenarnya bukan tentang uniknya brosur/harga yang ditawarkan oleh agen perjalan waktu itu, tetapi yang menarik saya adalah sebuah gambar ikan aneh yang bentuknya tidak bisa dijabarkan. Ikan itu mempunyai nama Sunfish atau yang biasa dipanggil Mola-Mola (waktu itu saya tau namanya dari brosur yang saya dapat hehe). Sepanjang perjalan saya cuma berfikir apakah saya bisa bertemu dengan si ikan aneh itu, karena setelah itu saya baca tentang syarat untuk bertemu si ikan aneh ini. Salah satu syarat yang membuat saya ragu adalah bulan kedatangannya yaitu Juli – Oktober, dan kebetulan kloter kami berangkat di awal bulan November. Pupus sudah.

brosur

Penampakan brosur yang bikin penasaran (itu MOLA MOLA)

Sekitar jam 9 malam tim sampai di Stasiun Banyuwangi Baru. Kami mengambil langkah menuju jalan raya untuk menyusun rencana selanjutnya, sesampainya dipinggir jalan raya kami langsung menghubungi pak Anto (Penyedia Jasa Travel) yang sudah kami booking jauh-jauh hari untuk kami tumpangi dari Banyuwangi sampai ke Sanur. Kami janjian dengan pak Anto di depan minimarket dekat dengan stasiun. Tidak lama mobil pak Anto mengahmpiri kami.

“Dengan mas Haris?” suara pak anto terdengar dari dalam mobil dengan logatnya yang khas Bali

“Iya benar pak”

“Oke mas tunggu sebentar saya buka kan bagasinya”

Setelah kami memasukan barang ke dalam mobil, kami langsung berangkat menuju Sanur. Kami melewati pelabuhan Ketapang yang malam itu padat dengan truk truk pengantar barang antar pulau. Sesampainya di Gilimanuk kami singgah untuk makam malam di sebuah warung makan khas Jawa. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan pak anto memacu mobilnya dengan sangat cepat membuat kami semua tertidur pulas. Sekitar jam 4 pagi kami sampai di Sanur dengan keadaan setengah sadar. Kami turun dari mobil pak Anto dan langsung berpamitan sekaligus bertanya apakah pak Anto bisa menjemput kami untuk perjalanan pulang. Kami menunggu sampai matahari terbit untuk menuju loket Sugriwa Express (Agen penyeberangan Sanur – Lembongan). Sekitar jam 9 pagi kami langsung menaiki kapal penyeberangan bersama penumpang lain yang rata-rata turis asing.

Sesampainya kami di Nusa Lembongan kami langsung dijemput oleh mas Pras (Alumni UNIT SELAM UGM) untuk menuju penginapan yang telah dipesan untuk kami. Setelah kami sampai dan hanya sempat bernafas sekejap, mas Bobby (Guide sekaligus Alumni UNIT SELAM UGM) sudah memberitahu kepada Akmal dan Aji untuk bersiap siap Dive pertama hari itu jam 1 siang. Tidak pakai kompromi kami semua langsung menuju dive shop dan langsung menuju boat untuk menuju Dive Point Toyopakeh Wall & SD Point hari itu. Hari sudah sore kami sudah sampai di dermaga Nusa Lembongan untuk kembali ke Dive Shop untuk membersihkan alat yang telah digunakan sekaligus untuk briefing dive esok hari. Setelah semuanya selesai kami menuju penginapan untuk beres-beres dan istirahat. Tidak sempat makan malam kami semua sudah tertidur pulas karena terlalu lelah.

Fajar mulai menyingsing, alarm handphone ku berdering sangat kencang membangunkan ku. Ku ambil sajadah dan sarung untuk melaksanakan ibadah shalat subuh. Jam sudah menunjukan pukul 7:45 dan kami masih bersiap-siap untuk menuju dive shop, kami janji hari ini untuk datang jam 08:00 pagi. Kami sampai di Dive Shop jam 8:10 dan semua orang sudah siap hanya kami yang terlambat, sungguh malu hari itu karena semua orang yang akan dive hari itu orang asing dan guide kami adalah alumni tetapi kami datang telat.

“Ahhh Junior macam apa aku ini, ahhh jelek sudah nama Indonesia gara-gara telat”, dalam hatiku bergumam.

“Ayo cepat siapkan alat-alat kalian” mas Bobby berbicara dengan tersenyum

Ahhh beruntung sekali kami ini masih diberi senyuman.

Hari ini merupakan hari yang saya tunggu-tunggu karena pada hari ini kami akan mengunjungi spot dive yang menjadi highlight di Trinusa yaitu Manta Point & Crystal Bay. Dari awal pelayaran saya hanya melamun dan berharap apakah saya bisa bertemu Mola-Mola di Crystal Bay hari ini akkhhh mustahil karena mendengar cerita dari teman saya Amy yang sudah stay di Nusa Lembongan selama 1,5 tahun saja belum pernah bertemu dengan si ikan aneh ini. Pupus sudah, tapi masih semangat juga.

Kami sampai di Manta Point dengan susah payah karena ombak yang kurang bersahabat waktu itu sampai membuat Isnawan mabuk laut. Kami briefing dan langsung mencari si primadona bawah laut. Sudah setengah jam kami berputar putar tapi belum membuahkan hasil. Saya hampir putus asa, sampai berfikir “ apa saya salah untuk ikut kloter ini ya”, tetapi selang beberapa menit guide membunyikan loncenganya dan memberikan tanda menggunakan tangan.

“Ada hiu” Mas Bobby memberi kode dengan tangannya

saya langsung mengayuh fin dengan cepat dan akhirnya pertama kali saya  melihat Bamboo Shark waktu itu. Setelah bertemu si “raja lautan” saya langsung disambut oleh Primadona hari itu, ya! Manta Ray lewat dengan anggunnya di depan saya, sungguh beruntungnya kala itu. Penyelaman di Manta Point di tutup dengan atraksi 2 Manta Ray menari nari dengan indah.

Primadona!

Primadona!

Setelah berpamitan dengan Manta Ray, kami bercengkrama di atas kapal sambil meminum segelas teh hangat.

“Mas nanti di Crystal Bay ketemu Mola Mola gak ya?” Tanya saya dengan penuh harap

“Hmmmm kayanya kecil kemungkinan, kamu tadi ngerasa kan airnya gak terlalu dingin. Tapi ya kita berharap aja gak ada yang tau ini alam hehe” jawab Mas Bobby dengan muka mencoba menghibur

“Ketemu lah kita buat nanti cerita cerita di Unit” jawab Isnawan yang sudah mulai sembuh dari mabuknya.

Kapten Jonny memacu kapal kami dengan cekatan menuju tempat dimana brosur brosur mempromosikan si ikan aneh, ya Crystal Bay. Sesampainya di Crystal Bay langit mulai kelam dan menurunkan air seakan memberikan tanda bahwa tidak ada MOLA hari ini. Kala itu banyak kami tidak sendirian, banyak boat boat penyelam lainnya.

“Woah MOLA! MOLA!” teriak salah satu turis dari kapal sebelah kami langsung clingak clinguk untuk melihat benar atau tidak, dan nyatanya tidak ada apa-apa, sial. Kami mulai penyelaman dan mulai berkeliling mengikuti arus yang membawa kami masuk ke dalam reef. Tidak ada tanda-tanda dari si ikan aneh sampai di tengah penyelaman Mas Bobby membunyikan loncengnya dan menunjuk kearah laut lepas. Saya langsung antusias melihat kearah yang dituju.

“Dimana?” saya memberi kode dengan tangan kepada Mas Bobby

Setelah dive selesai saya bertanya, “tadi apa mas?” dan mas Bob menjawab “Hanya bayangan” ahh memang belum saatnya saya bertemu dengan ikan aneh itu. Penyelaman kami ditutup dengan sakitnya beberapa peserta dan kekecawaan ku karena merasa dibohongi oleh brosur. Sorenya saya duduk di pinggir pantai menunggu sunset. Matahari turun dan memberikan warna jingga berbalut merah yang menakjubkan. Keindahan ini menutupi sedikit rasa kecewa saya hari ini.

bocah

Asiknya seorang bocah yang tak menghiraukan indahnya sang mentari

Hari terakhir sebelum kami kembali ke Yogyakarta ditutup dengan 1 kali menyelam setiap 2 orangnya. Saya dan Isnawan, Akmal dan Aji. Saya dan Isnawan mendapat giliran pertama di dive site Pura Mas Gading dan menurut info saat briefing disini tidak ada hal yang spesial, mungkin bisa bertemu eel, angle fish, turtle. Kami mulai penyelaman dan kami berdua sekelompok dengan Amy. Saat masuk ke kedalaman 10 meter air terasa sangat dingin karena thermocline langsung menyerang kami. Mas Bobby membawa kami ketengah laut lepas. Saya bingung untuk apa ke tengah yang hanya ada air biru, memang waktu itu jarak pandangan sangat jauh sekitar 20 meter terlihat hingga kebawah. Selang beberapa menit kami disapa oleh Mr Turtle! Yang berenang bebas menuju lautan. Air masih saja terasa sangat dingin sampai membuat sekujur tubuh merinding.

Beberapa menit berselang guide kelompok lain yang masih satu dive shop dengan kami membunyikan loncengannya, dan Mas Bobby memberikan kode. “MOLA MOLA!” sambil menunjuk ke kedalaman, saya menilik dengan jeli dan ini bukan mimpi. Seekor Mola Mola berenang dengan tenang di kedalaman. Kami semua langsung berenang mendekati, saya mengayuh fin dengan sangat cepat sampai tidak melihat dive computer yang sudah berbunyi karena saya turun terlalu cepat. Mas Bobby menarik saya karena dengan tidak sadar saya telah menyelam ke kedalam 38 meter, sungguh nekat sekaligus bodoh kala itu hahaha.

Perasaan saya masih campur aduk setelah melihat Mola Mola dari kejauhan. Kami melanjutkan penyelaman dengan sisa udara saya yang sudah minim karena mungkin terlalu senang melihat Mola hahah. Tidak berselang lama Mas Bobby membunyikan loncengnya lagi. Woh!! 3 ekor Mola Mola berenang di depan kami dengan cepatnya, beruntungnya diriku ini. Terakhir saat kami akan melakukan safety stop guide kelompok lain membunyikan loncengnya dan alhasil seeakan Mola Mola memberikan saya salam perpisahan dengan cara berdiam tenang dekat dengan kami. Kami naik dan saya sempat mendapat donor udara karena hampir melewati batas heheh. Sesampainya di kapal saya hanya bisa berteriak dan menceritakan kepada Aji dan Akmal yang tentunya mereka pasti iri hahah.

Yang dinanti tiba

Yang dinanti tiba

Setelah saya diberi salam perpisahan oleh si ikan aneh Mola Mola, saya dan tim langsung bersiap siap pulang dan berpamitan dengan Mas Tito, Wakari, Mas Bobby, dan Tim. Kami mempersiapkan semuanya dan bersalaman dengan tim. Saat saya bersalaman dengan tim dia berkata :

“Your The Lucky Bastard!! Haha” Tim berkata dengan sedikit menyesal karena tidak ikut kami tadi siang

“Hahaha” aku tertawa dengan lepas

“Hey i’m just kidding yaa! Come back again, and catch the Mola Mola again with me.”

“Hahaha No!! That’s its true I am a Lucky Bastard!!” saya tertawa dengan bangga sambil berpamitan dengan Tim.

Sore itu kapal boat cepat Sugriwa Express mengantar saya dan tim pulang menuju Sanur. Saya hanya tersenyum melihat indahnya sunset kala itu dari balik kaca boat. Sore itu juga saya hanya tersenyum dan berfikir bahwa sebenarnya Indonesia itu sangat indah. Tuhan memberikan semuanya. Gunung, Laut, Pantai, Hutan semuanya tanpa batasan. Hanya saja untuk menikmatinya kita harus bersyukur dan keluar dari zona fana yang dibuat oleh manusia sendiri. Terimakasih Bali. Terimakasih Indonesia. Kalian Luar Biasa. 🙂

 

Oleh : Muhammad Haris